Nasi Padang
Nasi Padang adalah makanan yang paling populer di Maritim Asia Tenggara. Bukan cuma disajikan di kota Padang oleh orang-orang Minangkabau, tapi rumah makan Padang sudah populer banget di seluruh Indonesia dan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.
Lama-lama, orang lebih suka menyebutnya makanan Padang, bukan Nasi Padang. Karena masakan tersebut bukan hanya berbicara soal nasi, tapi juga seluruh lauk pauknya. Makanan Padang terkenal akan rasanya yang kaya karena terbuat dari santan dan cabai pedas. Karena, di antara tradisi memasak berbagai masakan Indonesia, masakan Minangkabau dan sebagian besar masakan Sumatera menunjukkan pengaruh Timur Tengah dan India yang merupakan hidangan saus kari dengan santan. Dan nggak lupa menggunakan rempah-rempah.
DIMASAK SECARA HALAL
Karena sebagian besar warga Minangkabau beragama Islam, masakan Padang tentunya dimasak secara halal. Asupan proteinnya diambil dari daging sapi, kerbau, kambing, domba, unggas, dan ikan. Hampir seluruh bagian sapi, seperti daging, tulang rusuk, lidah, ekor, hati, babat, otak, sumsum tulang, limpa, usus, tulang rawan, tendon, dan kulit digunakan untuk membuat masakan Padang yang lezat.
Biasanya sih dipanggang atau digoreng dengan saus cabai pedas atau
saus kari. Berbagai ikan, udang, dan cumi-cumi juga dimasak dengan cara yang
sama. Sayurannya sebagian besar direbus, contohnya daun singkong, nangka muda,
dan kubis.
KENAPA LEBIH BANYAK PORSINYA KETIKA DIBUNGKUS?
Di Sumatera Barat dan sekitarnya (termasuk Pekanbaru), rumah makan di sana bukan disebut Rumah Makan Padang, melainkan RM Ampera. Misal, RM Ampera Beringin, RM Ampera Siti Nurbaya, dan lain-lain. Ampera sendiri adalah kepanjangan dari AManat PEnderitaan RAkyat.
Di masa penjajahan dulu, RM Padang termasuk RM yang ekslusif, hanya kaum penjajah dan para saudagar kaya yang bisa menikmati lezatnya rendang, gulai tunjang, kepala ikan kakap, dendeng, dan lain-lain. Saudagar kaya yang dimaksud di sini adalah saudagar etnis Tionghoa (bukan pribumi). Karena, di masa penjajahan, daging dan beras termasuk komoditi mahal. Makanya, harga makanan padang menjadi mahal dan hanya kalangan tertentu yang bisa menikmatinya.
Itulah sebabnya, jika beli Nasi Padang, isinya lebih bayak dibungkus daripada makan di tempat. Para pengusaha RM Padang (pastinya orang Minang asli) sadar bahwa saudara-saudaranya juga layak untuk menikmati makanan enak, terlebih lagi makanan khas daerah mereka sendiri. Mereka juga sadar, banyak dari saudara mereka bekerja sebagai buruh kasar untuk para penjajah dan saudagar kaya yang makan di RM mereka. Dan saudara mereka ini membutuhkan tenaga dan gizi yang cukup untuk tetap selalu sehat.
Entah siapa yang memulai, di suatu waktu, para pengusaha RM ini
memberlakukan peraturan baru. Jumlah nasi yang dibeli dengan dibungkus isinya
akan jauh lebih banyak daripada makan di tempat. Biaya makan di tempat
dibebankan kepada para penjajah dan para saudagar kaya. Sedangkan, biaya makan
dibungkus dibebankan kepada para buruh dan para pribumi lain.
0 Komentar